6 Ultimate Reasons Why You Should Travel to Peru

2.5 tahun lalu, kalau aku ditanya keajaiban dunia mana yang ingin aku kunjungi, aku pasti jawab Machu Picchu di Peru. Dari baca buku Tintin, beli buku Lonely Planet Peru sampai nonton alien theory tentang Machu Picchu, aku udah lama tergila-gila dengan keajaiban dunia yang cukup kontroversial ini. Keinginan untuk melihat langsung Machu Picchu jadi kenyataan setelah bertemu di pesawat dengan sesama teman traveler yang lagi keliling dunia. Saya menerima ajakannya untuk bertemu di Peru dan backpacking bareng.

Nah waktu itu tuh, aku belum paham-paham banget artinya backpacking itu kayak apa dan aku juga gak pernah ngerasain lebih dari 24 jam di pesawat dengan transit sana sini. Paling jauh jalan-jalan cuma ke Hong Kong, Philippine dan sekitaran Asia aja. Belum pernah ke belahan dunia yang lain. Tekad sudah bulat tapi keuangan pas-pasan, temen backpacking disana juga baru kenal kurang dari 24 jam. Bisa dibilang perjalanan ke Peru ini cuma dengan modal NEKAT. Kebetulan hashtag #YOLO (You Only Live Once) lagi trending juga saat itu dan perjalanan Peru inilah yang menjadi awal ke-YOLO-an gue di tahun 2016.

Mencari tiket dari Filipina ke Peru tidak mudah. Aku lagi-lagi harus muter otak cari cara untuk bisa terbang ke Peru tanpa harus apply visa transit di negara lain. Ada banyak rute yang ditawarkan, tetapi semua membutuhkan visa transit seperti Amerika dan Jepang. Akhirnya saya memilih untuk terbang ke Kuala Lumpur dulu, lalu terbang ke Peru dengan transit di Amsterdam selama 6 jam menggunakan KLM. Amsterdam ini salah satu negara yang mengizinkan transit tanpa transit visa. Demi tidak membayar visa transit, harus rela pantat mati rasa karena kelamaan duduk di pesawat. Perjalanan mengitari dunia ini memakan waktu kurang lebih 30+ jam.

Kurang dari 24 jam setelah aku tiba di Peru, aku udah nangis pengen pulang. Gak ada yang bisa bahasa Inggris, gak bisa pesen Uber, Grab atau Gojek jadi harus naik transportasi umum, tapi karena gak ada yang bisa bahasa Inggris, jadi mau tanya ongkosnya berapa aja susahnya bukan main. Naik taksi, supirnya galak-galak dan agresif. Harus tawar harga dulu dengan pak supir yang gak bisa bahasa Inggris, ga boleh langsung duduk manis kalau belum deal. Hari pertama, badan udah rontok karena harus jalan seharian dan tersesat berkali-kali. Matahari disana juga panas banget, tapi karena cuacanya kering dan berangin jadi panasnya gak begitu terasa. Besoknya kulit udah kena sunburn. Rough start, eh?

Untungnya setelah teman gue datang, penderitaan agak sedikit membaik karena dia bisa bahasa Spanish. Kita mulai bikin plan rute perjalanan kita selama 10 hari di Peru. Jujur aja, perjalanan aku selama di Peru ini penuh pelajaran tapi itulah yang buat trip ini sangat berkesan. Aku jadi belajar caranya backpacking, belajar cara survive dan travel tanpa internet, belajar navigasi jalan biar gak tersesat.Peru is extremely beautiful despite the struggle to get around. Keindahan alam dan culturenya benar-benar out of this world.Satu-satunya tempat yang sukses bikin aku jatuh cinta dengan backpacking.

1. Visa

NO VISA REQUIRED. Pemegang passport Indonesia bisa ke Peru tanpa visa untuk jangka waktu yg panjang yaitu 183 hari (6 bulan)

2. Flight

Ada banyak flight ke Peru dari Indonesia. Seperti pengalaman saya, kalau kamu mau memilih rute yang mudah dan tidak perlu apply transit visa, maka bisa lewat Belanda dengan KLM. Connecting flight degan KLM tidak perlu keluar Imigrasi atau visa Schengen. Cukup menunggu di dalam terminal saja.

3. Makanan 

1 Peruvian soles sekitar 4 ribuan. Bisa dibilang harga makanan kurang lebih sama dengan harga makanan di Jakarta, sekali makan 50-100rb. Porsi makanan disana besar banget. Setiap makan nasi, pasti ada kentang juga. Kentang di Peru itu sama pentingnya seperti nasi untuk orang Indonesia. Jadi pasti di setiap makanan, ada kentangnya. Makanya, karena porsinya yang besar seperti ini, kamu bisa pesan sepiring bagi 2, biar bisa hemat biaya.

Salah satu makanan favorit aku pas di Peru adalah ceviche atau sashimi ala Peruvian dan anticucho (grilled beef hearts).

4. Amazon, Salt Mines, Desert and many more

Peru ini adalah negara yang alamnya sangat bervariasi. Dari cuaca yang dinginnya gak kira-kira seperti Cusco bisa jadi panas banget sewaktu tiba di Huacachina. Dari rocky mountain, salt mines sampai rainforest terbesar di dunia seperti Amazon, semuanya ada.

Pack some good hiking shoes and use mountain backpack. Selama 10 hari ngebolang menggunakan regular sneakers, kaki rasanya seperti berjalan di atas jarum karena harus berjalan di antara bebatuan dan kerikil. Hiking shoes akan sangat berguna untuk melindungi kaki kita dan tetap nyaman biarpun dipakai jalan berjam-jam.

Kalau kalian juga memilih untuk backpacking seperti aku, aku sarankan untuk pack light dan menggunakan mountain backpack. Ini untuk memudahkan kamu bergerak melewati tangga-tangga, jalanan yang tidak beraspal, high hills dan tidak memancing perhatian para alpaca disana. hehe

5. Coccaine Tea

Itu bukan typo. Peru punya teh special yang dibuat dari bahan dasar coccaine yaitu coca tea. Teh ini menjadi minuman sehari-hari selama aku stay di Cusco. Lain halnya dengan coccaine, coca tea ini sama sekali engga bikin kecanduan. Justru teh ini adalah obat altitude sickness.

Pertama kali tiba di Cusco, aku harus jalan cukup jauh, sambil menggotong luggage ke hotel. Baru 5 menit jalan, aku kesulitan bernapas dan tiba-tiba lightheaded. Teman aku sampai harus bantuin jalan karena aku udah sempoyongan dan susah bernapas. Ternyata gejala yang aku alamin ini adalah hal yang lumrah untuk orang yang baru pertama kali ke Cusco. Ini disebabkan oleh altitude sickness karena Cusco yang terletak di 3,600m above sea level.

Setibanya di hotel, langsung disuguhin coca tea. 5 menit setelah minum teh itu langsung hilang sakit kepalanya dan bisa bernapas normal lagi. Butuh beberapa hari baru akhirnya aklimitasi dengan di Cusco, dibantu dengan coca tea. Pssst, katanya sih hanya dengan 1 cangkir coca tea bisa menyebabkan hasi positif di drug test untuk cocaine dan coca tea ini ilegal untuk diperjualbelikan di negara mana pun kecuali Columbia, Peru, Bolivia, Argentina, Ecuador dan Chile.

Penasaran pengen coba? Ayo cepetan booking tiket ke Peru 🙂

6. Machu Picchu

Lastly, yes. The golden destination. Machu Picchu!

I wish I could tell you that you can just book your ticket to Peru, get a flight to Cusco, take a train Aguas Calientes, buy a ticket to enter Machu Picchu and off you go. But, no. not that easy.

Untuk bisa masuk ke Machu Picchu, kamu harus cek terlebih dulu apakah masih ada tiket masuk di tanggal kunjungan kamu ke Machu Picchu. Kamu harus menggunakan jasa tour untuk membeli tiket masuk ke Machu Picchu.

Aku beli tiket masuk Machu Picchu dan Huayna Picchu, yaitu puncak dari kota Machu Picchu. Ada banyak temple para Inca di Huayna Picchu dan meskipun pendakian ke Huayna Picchu ini sangat sulit dan melelakan, the view was absolutely fantastic.

Setiap harinya, hanya ada slot 400 orang untuk masuk ke Huayna Picchu. Salah satu opsi lain adalah mengambil tiket Machu Picchu dan Montana. Dari puncak gunung yang berseberangan dengan Machu Picchu, kamu bisa melihat pemandangan Machu Picchu yang disekelilingi dengan pegunungan.

So, when are you planning to go to Peru? Have you visited Peru yet? Apa kota favorit kamu di Peru? Leave a comment below. Aku akan tulis lebih lanjut mengenai budget yang kamu harus siapkan untuk mengunjungi Machu Picchu. Stay tune!

 

Live to the fullest,

Greta

 

2 Comments

  1. I really enjoy your writing. Thank you for sharing about your travel!
    I am planning to visit Peru and Chile this year. Please sharing the budget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *